Loading...

Rabu, 03 Maret 2010

Hubungan olahraga dengan masyarakat dan kebudayaan

Hubungan Olahraga dengan Masyarakat dan Kebudayaan
Sebagai suatu bagian yang integral dari sistim-sistim sosial budaya dari suatu masyarakat tertentu, kegiatan-kegiatan olahraga yang ada didalam suatu masyarakat itu berbeda dengan kegiatan-kegiatan olahraga yang ada didalam masyarakat-masyarakat lainya. Suatu kegiatan olahraga hanyalah merupakan sautu bagian dari suatu rangkaian tindakan dan tingka laku manusia yang untuk bisa dipahami ekspresinya haruslah dilihat dan dijelaskan dengan memperhitungkan faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan-kegiatan olahraga atau tingka laku manusia tersebut.
Faktor-faktor dasar yang mempengeruhi suatu kegiatan atau tindakan olahraga, yaitu suatu tindakan organik dari tubuh manusia, adalah sistim-sistim sosial budaya. Sistim-sistim social budaya itu merupakan reference systems, yaitu merupakan suatu rangkaian model-model kognitif atau pengetahuan yang terdapat pada berbagai tingkat kesadaran manusia. Manusia menggunakan model-model ini secara selektif bagi kepentingan mereka berdasarkan atas kecocokan dengan tujuan-tujuan mereka dan juga karena menarik perhatian mereka. Model-model yang dipilih oleh manusia dalam suatu keadaan tertentu digunakan untuk menuntun tindakan-tindakan mereka didalam menghadapi lingkungan yang nyata yang juga menyangkut sejumlah orang. Model-model ini merangsang untuk dan merupakan sandaran bagi interprestasi yang dapat digunakan didalam menghadapi situasi, barang atau benda, dan serangkaian dan kemungkinan tingka laku manusia yang lainnya didalam suatu lingkungan tertentu. Model-model ini tidak cenderung untuk berlaku secara konsisten, maupun bersifat homogen pada suatu kelompok manusia tertentu.

Macamnya tingka laku manusia yang eksresinya bisa dilihat itu, sebagian dipengeruhi oleh macam kebudayaan dari yang bersangkutan dan yang sebagian lagi oleh suatu keadaan sekelilingnya di mana yang bersangkutan terlibat dalam suatu interaksi social. Sehubungan dengan hal ini, suatu kegiatan olahraga adalah suatu ekspresi dari tingkah laku sosial manusia yang muncul didalam suatu arena dan sekeliling tertentu yang ekspresinya juga dipengeruhi oleh macam kebudayaan dari yang bersangkutan dan keadaan sekeliling dimana kegiatan olahraga itu dilangsungkan.
Pengertian kebudayaan tidak hanya mencakup tingkah laku manusia saja, tetapi juga keseluruhan dari pola-pola dan abtraksi-abtraksi dari tingka laku atau hasil tingkah laku manusia. Kebudayaan itu terlahir dan terdiri dari serangkaian elemen-elemen, yang tumbuh dari suatu rangkian pengalaman-pengalaman ilmiah, maupun yang berasal dari pengetahuan sehari-hari. Suatu kebudayaan terdiri dari serangkaian unsur-unsur kebudayaan, yaitu nilai-nilai, norma-norma, dan serangkaian symbol-symbol, baik yang verbal maupun non verbal.
Didalam kehidupan kita sehari-hari peranan dan pengeruh kebudayaan atas gerakan-gerakan tubuh manusia atau atas tingkah laku manusia tidaklah kecil. Salah satu contoh pengaruh kebudayaan atas gerakan-gerakan tubuh manusia yang paling dasar adalah berjalan kaki. Gaya dan gerakan orang berjalan kaki tidaklah semata-mata merupakan gerak yang diatur secara organis oleh tubuh manusia. Tetapi sebaliknya, gaya dan gerak orang berjalan kaki itu lebih ditentukan oleh faktor kebudayaan yang faktor kebudayaan mana mempengeruhi sistim kepribadian dari yang bersangkutan dan yang kemudian mempengeruhi gerak dan gayanya dalam berjalan kaki. Orang jawa, misalnya biasanya berjalan dengan langkah-langkah yang halus, teratur, dan sedikit membungkuk-bungkuk. Hal ini disebabkan karena kebudayaan jawa menekankan perlunya orang jawa bertindak sopan santun dalam segala tindakannya, termasuk juga didalam hal berjalan kaki yang sebenarnya juga adalah suatu tindakan sosial. Yaitu agar tidak dianggap kurang ajar dan menyinggung perasaan orang lain didalam suatu lingkungan sosial orang Jawa tertentu yang berjalan kaki tersebut terlibat didalamnya. Penekanan untuk tidak kurang ajar dan harus bertindak sopan santun terhadap orang lain yang dihadapi, mempengeruhi sistim kepribadiannya dimana dia akan selalu harus selalu merendahkan diri dan memperhitungkan perasaan kebanggaan pribadi dari orang lain yang ada disekelilingnya. Hal ini kemudian disalurkan ekspresinya antara lain didalam gerakan dan gayanya berjalan kaki, agar bisa dianggap pantas oleh orang lain, yang ada disekelilingnya dan oleh dirinya sendiri yang dengan demikian telah mencapai suatu kepuasan akan tingkah lakunya berdasarkan atas ada atau tidaknya gunjingan-gunjingan yang mengecamnya dari orang lain sekelilingnya.
Kalau kita bertitik tolak dari suatu pengertian bahwa setiap masyarakat it masing-masing mempunyai kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan yang ada pada masyarakat yang lainnya, dan bahwa tingkah laku manusia itu, termasuk juga kegiatan-kegiatan olahraga, dipengaruhi oleh macam-macam kebudayaan dari orang yang bersangkutan. Oleh karenanya setiap masyarakat itu juga mempunyai sejumlah olahraga yang macam, bentuk, sifat dan kegiatan-kegiatannya berbeda dengan yang terdapat pada masyarakat-masyarakat lainnya. Kalau kita menggolongkan masyarakat manusia berdasarkan atas kebudayaan yang mereka punyai, maka secara garis besarnya masyarakat manusia itu digolongkan menjadi dua yaitu masuarakat dengan kebudayaan yang sederhana atau primitif dan masyarakat dengan kebudayaan kompleks atau modern.diantaranya kedua golongan masyarakat ini ada sejumlah masyarakat yang kebudayaanya sedang dalam suatu proses perubahan dari sederhana ke kompleks atau yang merupakan suatu gabungan atau perpaduan dari kebudayaan-kebudayaan yang sederhana dan yang kompleks.
Perbedaan kebudayaan kedua golongan masyarakat ini juga tercermin didalam perbedaan yang ada pada kedua golongan masyarakat tersebut dalam hal-hal konsepsi tentang, sifat kegiatan-kegiatan, dan macam serta bentuk dari olahraga pada masyarakat-masyarakat yang bersangkutan. Pada masyarakat-masyarakat yang primitive, misalnya dimana pembagian wamtu antara waktu kerja dan tidak bekerja, tidak tertentu dan jelas bedanya, dan antara bekerja dan bermain juga tidak jelas bedanya, maka olahraga yang sebetulnya juga adalah suatu bentuk cara bermain, kegiatan-kegiatannya tidaklah dilakukan secara terpisah dari kegiatan-kegiatan pekerjaan tetapi bahkan merupakan suatu bagian yang menyeluruh dari kegiatan-kegiatan tetapi bahkan merupakan merupakan suatu bagian yang menyeluruh dari kegiatan-kegiatan kerja mereka. Hal in disebabkan oleh tingkat kebudayaan mereka yang sederhana, yang kesederhanaan mana memungkinkan bagi seluruh unsur-unsur kebudayaan menjadi terintegrasi secara menyeluruh merupakan suatu kesatuan yang unsur-unsur kebudayaannya saling pengruh-mempengaruhi dan berkaitan satu sama lainnya.
Pada masyarakart yang primitive tersebut olahraga sebenarnya adalah merupakan suatu bagian dari suatu sitem sosialasi anak. Dalam sosialisasi mana anak-anak di didik untuk mempersiapkan menjadi anggota-anggota masyarakat yang penuh yang antara lain juga agar mempunyai suatu keterampilan fisik yang secukupnya yang sehubungan dengan sistim mata pencaharian mereka. Pada masyarakat primitive yang mempunyai suatu sistim mata pencaharian berburu, maka olahraga yang ditekankan pentingnya dalam masyarakat-masyarakat tersebut adalah olahraga yang berhubungan dengan perburuan, yaitu ketrampilan dalam berlari, menggunakan busur dan panah atau tombak, dan ketrampilan didalam mengikuti jejak atau menyelidiki untuk menemukan tempat bersembunyinya hewan-hewan buruan. Kalau pada masa kanak-kanak mereka macam-macam olahraga tersebut mereka lakukan sebagai permainan, maka didalam kehidupan mereka sebagai orang dewasa kegiatan olahraga tersebut bukan lagi semata-mata merupakan suatu permainan tetapi suatu kegiatan ekonomi.
Hubungan olahraga dalam masyarakat primitif tidak hanya terbatas dengan kegiatan-kegiatan ekonomi saja, tetapi juga dengan unsur-unsur kebudayaan lainnya. Umpamanya dengan politik, dimana orang-orang yang terlatih dalam olahraga dan khususnya didalam ketrampilan berkelahi, menggunakan senjata, berlari, dan bersembunyi, selalu dibutuhkan untuk mempertahankan territorial wilayah kekuasaan masyarakat yang bersangkutan atau untuk menyerang masyarakat lainnya. Didalam kegiatan-kegiatan yang sehubungan dengan sistim keagamaan mereka, maka ekspedisi-ekspedisi pengayuaan yang dilakukan menggantungkan keberhasilannya kepada ketrampilan mereka yang turut didalam ekspedisi, dan yang krampilan mana hanya mungkin mereka peroleh didalam sosialisasi mereka. Tidak jarang jarang terjadi, bahwa didalam melakukan kegiatan-kegiatan berburu, berperang, atau mengayau, yang pada hakekatnya berdasarkan kepada suatu kegiatan permainan dalam bentuk olahraga, mereka ini juga menyandarkan keunggulan dan ketrampilan mereka didalam arena-arena tersebut berdasarkan atas kekuatan-kekuatan magis atau atas bantuan roh-roh supranatural tertentu menurut sistim keagamaan mereka masing-masing.
Didalam melakukan kegiatan-kegiatan in, mereka tidak melakukannya menurut jadwal-jadwal tertentu yang mereka buat, tetapi berdasarkan atas adanya suatu kebutuhan untuk melakukannya atau oleh suatu keadaan tertentu yang membuat mereka harus melakukan kegiatan-kegiatan tersebut. Umpamanya, kalau ada seekor binatang buruan yang kebetulang diketahui sedang berada didekat perkampungan mereka, maka mereka harus segera siap dengan senjata-senjata mereka untuk melakukan perburuan. Atau, jika sekiranya diketahui bahwa kampung mereka sedang dalam keadaan akan diserang oleh orang-orang dari kampung lainnya maka merekapun harus siap untuk berperang. Kesemuanya ini dengan sendirinya mereka lakukan tanpa mengingat atau menurut jadwal tertentu, yang tentu saja berbeda dengan kegiatan-kegiatan olahraga dalam masyarakat yang kompleks atau modern. Dalam masyarakat yang modern, ada suatu pembagian waktu antara waktu-waktu kerja dan istirahat atau liburan. Hal ini dimungkinkan karena waktu kerja diperkecil tetapi nilai kapasitas kerja diintensipkan dan diperbesar hasilnya. Juga, hasil dari kerja yang diperoleh para pekerja dianggap mencukupi atau bahkan lebih bagi kebutuhan kehidupan mereka, menurut standart kehidupan ekonomi dari masyarakat yang bersangkutan, yang dengan demikian juga menyebabkan mereka itu tidak perlu lagi memanfaatkannya untuk berristirahat atau menghibur diri mereka. Dalam waktu-waktu istirahat inilah kegiatan-kegiatan olahraga mereka lakukan, dan tidak pada waktu-waktu kerja atau bersamaan dengan pekerjaan yang sedang mereka lakukan.
Karena kompleksnya kebudayaan-kebudayaan dari masyarakat-masyarakat yang modern, antara lain karena spesialisasi kerja dan keahlian yang nampaknya seolah-olah berdiri sendiri terlepas dari unsur-unsur kebudayaan yang lainya yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan. Karena itu, kegiatan-kegiatan olahraga menjadi suatu kegiatan yang terbatas yang dilakukan didalam wadah-wadah tertentu seperti didalam pertemuan-pertemuan tertentu yang terjadi secara sepontan seperti misalnya didalam piknik keluarga atau teman dekat, dan juga didalam perkumpulan-perkumpulan mana juga terbagi-bagi lagi didalam spesialisasi-spesialisasi atau cabang-cabang olahraga tertentu. Didalam melakukan kegiatan-kegiatan olahraga mereka tidak lagi melakukannya sebagai suatu bagian yang integral dari kegiatan-kegiatan ekonomi, keagamaan, atau politik, seperti halnya dengan apa yang dilakukan oleh anggota-anggota masyarakat dengan kebudayaan primitive, tetapi melakukannya sebagai suatu hiburan, permainan untuk kesehatan, atau bahkan melakukannya sebagai suatu pekerjaan. Dalam hal terkahir ini mereka melakukanmua karena dibayar atau digaji. Munculnya olahraga bayaran dimasyarakat modern itu bisa dimungkinkan kelangsungannya karena pada masyarakat tersebut peranan olahraga sebagai suatu bentuk hiburan menjadi menonjol berhubung dengan adanya waktu-waktu istirahat atau liburan yang cukup dipunyai oleh warganya yang sewaktu-waktu mana mereka gunakan untuk menghibur diri mereka antara lain dengan melihat atau mengikuti pertandingan pertandingan olahraga yang harus bekerja pada waktu-waktu liburan atau istirahat karena adanya pertandingan-pertandingan olahraga, yaitu atlit dan pengurusnya, serta orang-orang yang terlibat didalam kegiatan-kegiatan pengurusan pertandingan-pertandingan yang diadakan.
Karena itu juga, peranan olahraga sebagai suatu pranata sosialisasi bagi anak-anak untuk menjadi warga yang penuh dari masyarakat menjadi berkurang atau bahkan hilang sama sekali. Anak-anak tidak lagi diharapkan oleh orang tua mereka dan anggota-anggota masyarakat lainnya untuk menjadi seorang pelempar lembing yang baik agar nantinya bisa menjadi seorang pemburu binatang-binatang buruan. Seorang anak mungkin dianjurkan oleh orang tuanya untuk berolahraga karena alasan kesehatan atau agar anaknya tidak menggunakan waktu terluangnya untuk hal-hal yang mereka anggap tidak baik, atau juga karena seorang tua mengharapkan agar anaknya bisa menjadi juara did pertandingan-pertandingan olahraga, yang dengan kejuaraan dimana sianak mungkin bisa mendapat keuntungan-keuntungan yang nantinya bisa diperolehnya kalau dia sudah menjadi dewasa dengan menjadi seorang pemaoin bayaran. Jadi prestasi olahraga seseorang bisa digunakan untuk kebanggaan dan untuk memperkuat identitas dirinya, atau juga untuk keuntungan materil dan politik.
Sosialisasi anak-anak pada masyarakat-masyarakat yang modern kemudian menjadi lebih banyak dilakukan didalam pranata-pranata pendidikan formil yaitu berbagai macam sekolah, yang berfungsi mereka adalah mencetak orang-orang yang berkeahlian didalam spesialisasi-spesialisasi tertentu untuk bisa dipekerjakan dengan sebaik mungkin didalam berbagai macam pkerjaan dengan berfungsi dengan baik didalam sistim ekonomi yang berlaku didalam masyarakat yang bersangkutan. Bahkan, peranan pranata pendidikan yang tidak formil dan yang dasar yaitu keluarga, menjadi tidak Begitu kuat lagi, karena anak-anak lebih banyak menghabiskan waktunya disekolah atau diluar rumah sebab mereka tinggal did asrama.
Walaupun nampaknya olahraga dalam masyarakat-masyarakat yang modern telah merupakan suatu pranata yang berdiri sendiri, namun tidaklah berarti bahwa olahraga tidak dipengeruhi oleh dan berkaitan dengan unsur-unsur kebudayaan yang lain yang ada pada masyarakat yang bersangkutan. Bahkan bentuk, macam, sifat, dan kegiatan olahraga yang ada pada masyarakat-masyarakat yang modern dapat juga dilihat sebagai pencerminan dari kebudayaan yang bersangkutan. Karena kebudayaan dari masyarakat-masyarakat yang tergolong modern itu tidak sama satu dengan yang lainnya, maka macam, bentuk, sifat, dan kegiatan-kegiatan olahraga yang ada pada masing-masing masyarakat-masyarakat modern itu juga tidak sama. Karena masyarakat-masyarakat yang modern itu terdiri atas sejumlah pengelompokan-pengelompokan politik yaitu negera, yang masing-masing Negara itu merupakan suatu masyarakat yang tersendiri yang berbeda dengan masyarakat-masyarakat lainnya, maka dalam tulisan ini satu Negara akan saya perlakukan sebagai suatu masyarakat. Contoh dari dua masyarakat modern dewasa ini yang masing-masing mempunyai sistim-sistim sosial budaya yang berbeda satu dengan yang lainnya, yaitu Amerika Serikat dan Uni Sovyet, dank arena juga memperlihatkan perbedaan perbedaan didalam macam, bentuk, sifat, dan kegiatan-kegiatan olahraga yang terdapat pada kedua masyarakat tersebut.
Di Amerika Serikat, pemain-pemain olahraga tidaklah diorganisir dan dijamin hidupnya oleh pemerintah atau oleh Negara. Sebagian besar dari mereka adalah pemain-pemain bayaran, dan hanya sebagian kecil saja yang merupakan pemain-pemain amatir, yaitu yang kegiatan-kegiatannya terbatas didalam lingkungan universitas, sekolah, perkumpulan-perkumpulan amatir, dan meliter. Cabang-cabang olahraga yang digemari adalah bola kaki, bola basket, hoky es, baseball, dan cabang-cabang olahraga lainnya, yang masing-masing cabang olahraga tersebut dimainkan pada suatu musim tertentu. Semua olahragawan dari cabang olahraga tersebut dimainkan pada suatu musim tertentu. Semua olahragawan dari cabang-cabang olahraga tersebut adalah pemain-pemain bayaran yang bekerja untuk perusahaan-perusahaan olahraga yang menghususkan usahanya dalam salah satu cabang olahraga tersebut. Perusahaan-perusahaan olahraga ini hampir ada disetiap kota besar di Amerika Serikat, dan yang kemudian perusahaan olahraga dari salah satu cabang olahraga tertentu bergabung menjadi satu merupakan suatu perkumpulan olahraga yang bersifat nasional. Untuk satu cabang olahraga terdapat lebih dari satu perkumpulan yang ruang lingkupnya nasional. Masing-masing perkumpulan nasional ini kemudian mengatur suatu rangkaian pertandingan-pertandingan olahraga untuk suatu musim tertentu yang melibatkan perkumpulan-perkumpulan lokal yang menjadi anggotanya. Perkumpulan yang menang dari suatu perkumpulan olahraga nasional kemudian dipertandingkan dengan perkumpulan yang menang dari suatu perkumpulan olahraga nasional yang lainnya.
Seorang olahragawan yang terbaik dari suatu perkumpulan olahraga lokal yang menyebabkan teamnya selalu menang didalam pertandingan-pertandingan olahraga akan selalu menarik kedatangan penonton, yang dengan demikian juga akan membawa keuntungan-keuntungan yang lebih besar kepada perusahaan olahraga yang bersangkutan dari uang karcis para penonton. Karena it pemain-pemain yang terbaik selalu mendapat bayaran yang jauh lebih besar dari rekan-rekannya satu team, dan bahkan juga bisa lebih baik daripada gaji yang diterima oleh olahragawan terbaik dari perkumpulan-perkumpulan lainnya. Seorang pemain yang terbaik dari suatu perkumpulan olahraga lokal bisa menjadi seorang pemain terbaik tingkat nasional, dan dalam keadaan demikian dia lalu digolongkan sebagai seorang superstar. Dalam kedudukannya sebagai seorang superstar dia bisa menuntut pembayaran yang lebih tinggi daripada pembayaran yang sedang diterimanya atau dia bisa juga pindah keperkumpulan olahraga ditempat lain yang sanggup untuk membayarnya lebih tinggi. Sebagai seorang superstar kedudukan sosialnya naik yang disertai juga dengan lebih baiknya status ekonominya. Dia bisa juga menjadi seorang tokoh politik dengan memanfaatkan status sosial yang telah diperolehnya, tetapi dia tidak mempunyai suatu kedudukan politik didalam sistim politik Negara tersebut karena prestasinya didalam pertandingan-pertandingan olahraga.
Di Uni Soviet, olahraga diorganisir oleh Negara dan kehidupan para olahragawan dijamin oleh Negara. Tetapi, mereka itu bukanlah pemain-pemain bayaran. Olahragawan-olahragawan yang selalu memenangkan pertandingan-pertandingan olahraga nasional dan khususnya internasional akan mendapat penghargaan nasional. Penghargaan nasional ini menyangkut juga kedudukan politik dalam struktur politik yang berlaku, serta berbagai fasilitas ekonomi yang membuat kedudukan sosialnya menjadi lebih baik karena prestasi olahraganya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar